Hitungan Detik

Seminggu ini saya seperti belajar untuk lebih memahami akan hidup, melihat kenyataan dan juga membalikan lagi kepada apa yang terjadi dalam diri saya. Memilih jalan hidup seperti yang saya jalani ini seperti mempertaruhkan resiko yang harus saya bayar... waww menantang dan sebenarnya ketakutan itu lebih besar dikepala saya. 

Saya adalah mahasiswa Magister Universitas Padjajaran mengambil kosentrasi Komunikasi Bisnis, yah sedikit nyambung dengan kuliah S1 sebelumnya, Seorang entrepreneur muda yang mempunyai bisnis baju bayi secara online dan juga ikut serta dalam suatu perusahaan consultant marketing for youth yaitu Youth Lab, partime sebagai coach di consultant and coorporate training. ketiga pekerjaan yang menantang dan membuat saya enjoy dan growing... mempunyai kehidupan di dua alam, yaitu Jakarta dan Bandung kadang capee bgt, kalo kata oma gue udah kayak setrikaan aja bolak balik, kamu freelance aja dari supir travel... heheehe... 

Tapi disitulah saya banyak belajar dan menikmati tiap detik nya... kadang pengen kembali ke aktifitas  bekerja 9 to 5 lagi pulang ngopi di mall ama temen-temen, weekend jalan- jalan dan nonton bareng, yap sekarang kebalikannya ....  dan disitulah moment per detik sangat beharga buat saya, bangun lebih pagi pergi ke Gym demi target kurus, pulang ke rumah check email dan web liat progress kerjaan, dan mengejar tugas-tugas S2 yang kadang menyita waktu sekali... pastinya tiap weekend jadwal jalan-jalan di coret dan kembali ke executive class yaitu kuliah di waktu weekend... Pilihan memang harus berani ambil resikonya... kalau saya mengeluh berarti saya ga konsisten dan munafik kali yah.. sama aja dengan  komitment di hubungan... selingkuh brarti ga jujur dan ga komit donk, munafik sama aja looking good dan ga komit juga utk jd apa adanya...

Melihat sesuatu datang dan pergi sudah menjadi suatu roller coaster yang harus dihadapi, semua bagaikan hitungan detik yang berputar didalam otak dan hati, ketika melakukan kesalahan bagaikan hitungan detik juga untuk melakukan lagi, sama halnya ketika dalam detik itu tidak berfikir untuk berubah dan belajar dari kesalahan itu... 

Melihat kematian bagaikan hitungan detik, kita tidak tahu kapan akan terjadi mungkin dalam beberapa detik lagi, Ketika memaafkan juga bagaikan hitungan detik untuk menjadi benci dan pendendam atau menjadi ikhlas dan giver... ketika menentukan pilihan itu hanya seperti jentikan jari saja jika kita melewati proses pembelajarannya... terkadang jika kita mencari suatu jawaban akan sesuatu hal, secara ga sadar jawaban itu malahan ada di dalam diri sendiri, hanya membutuhkan cermin untuk melihat diri saya, dan merefleksikan dengan tindakan apa yang sudah dilakukan, impact apa yang saya timbulkan... sejauh mana kontribusi dan tindakan saya... hanya bagaikan hitungan detik saja jika melewatkanya...  

Awal di bulan Juni ini seperti dejavu, seperti baru beberapa hari yang lalu terjadi dan sudah pertengahan tahun lagi... berfikir dan merenung, sejauh mana saya menyianyiakan waktu saya ? apa yang saya lakukan dan saya hasilkan ? kok hanya hitungan detik saja perasaan mengeluh itu ada dan seperti jalan ditempat saja... terkadang mengalami masa hampa dimana melakukan hal 100% dan mendapatkan hasil 100% tetapi kok hampa rasanya ... apa saya tidak mensyukuri setiap detik yang saya lakukan dan dapat ... plaaakkk tamparan keras yang menutup jalan saya untuk lebih banyak bersyukur

Learning point : waktu itu bagaikan hitungan detik berputar, jika tidak sekarang melakukan terbaik hilang lagi bagai hitungan detik...memilih sesuatu adalah resiko yang harus diambil bukan disesali... tidak ada kerja keras yang sia sia semua adalah pembelajaran... melakukan yang terbaik dan 100% pasti suatu hari hasilnya luar biasa... :)


Back to Top